Senin, 26 Mei 2014

Karya Ilmiah Remaja-Fenomena Pengemis Di Purbalingga


BAB I

PENDAHULUAN

 

A.LATAR BELAKANG

Mengemis  suatu pekerjaan yang sangat memprihatinkan.Karena mengemis adalah pekerjaan yang di lalukan di sekitar jalan-jalan besar,masjid,alun-alun,pasar,dan sebagainya. Seseorang yang mengemis biasanya memakai pakaian yang kusut,kotor,dan kucel. Pada umumnya seseorang yang mengemis adalah orang-orang yang sudah lansia yang tidak memiliki pekerjaan. Tapi, pada zaman sekarang ini mengemis tidak hanya di lakukan oleh lansia atau orang yang sudah tua saja,mengemis juga di lakukan oleh orang-orang yang masih muda bahkan anak-anak.

          Mengemis banyak  dilakukan oleh sebagian orang  untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.Selain itu mengemis adalah suatu cara paling akhir untuk mendapatkan penghasilan sehari-hari. Namun,akhir-akhir ini pertumbuhan pengemis diIndonesia mengalami kenaikan yang sangat drastis,salah satunya di purbalingga (Jawa Tengah). Pemeritah kabupaten purbalingga perlu memperhatikan secara khusus tentang pertumbuhan pengemis di Purbalingga.

Di kota-kota besar seperi Purbalingga sangat mudah kita jumpai deretan-deretan pengemis yang berkeliaran.Karena banyaknya pengemis tidak sedikit orang yang merasa resah terhadap keberadaan mereka.Keresahan itu terjadi karena pengemis-pengemis yang meminta-minta itu biasanya mengganggu kegiatan atau aktifitas orang-orang yang mereka mintai.

Islam memandang pengemis sebagai pekerjaan yang haram.Alasannya karena mereka menipu dan merampas hak orang miskin yang benar-benar membutuhkan bantuan. Baik caranya dengan pengemis secara konvensional,ataupun mengemis menggunakan lembaga fiktif.

Dalilnya ialah :

Diriwayatkan dari Hubsyi bin Junaadah Radihyalahu’anhu, ia berkata: Rasulullah saw bersabda yang artinya “ Barang siapa meminta-minta kepada orang lain tanpa adanya kebutuhan, maka  seolah-olah ia memakan bara api “. HR.Ahmad.

          Untuk mengatasi permasalahan pengemis di Purbalingga,kami tertarik untuk melakukan pengamatan tentang apa yang melatar belakangi seseorang menjadi  pengemis.

 

 

 

 

B.RUMUSAN MASALAH

           Tujuan di adakanya pengamatan tetang ‘’Fenomena Pengemis di Purbalingga’’ adalah untuk mengatasi hal –hal berikut:

1.      Apa penyebab mereka menjadi pengemis?

 

2.      Mengapa mereka memilih berprofesi menjadi seorang pengemis?

3.      Apa alasan mereka mengemis di Purbalingga?

4.      Bagaimana cara mengatasi perluasan pengemis di Purbalingga?

C.TUJUAN

          Tujuan di adakan kegiatan pengamatan ini adalah sebagai berikut:

1.      Untuk mengetahui alasan mereka menjadi pengemis.

2.      Untuk mengetahui alasan mereka berprofesi menjadi seorang pengemis.

3.      Untuk mengetahui alasan mereka mengemis di Purbalingga.

4.      Untuk mengetahui bagaimana cara mengatasi perluasan pengemis di Purbalingga.

 

D.MANFAAT PENELITIAN

1.      Bagi pengemis diharapkan untuk berhenti dari mengemis.

2.      Bagi pemerintah diharapkan untuk menentukan langkah yang bijak dalam mengatasi pertumbuhan pengemis di Purbalingga.

3.      Bagi masyarakat diharapkan dapat memberikan sumbangsih bagi pemerintah maupun pengemis.

4.      Bagi semua instansi yang berkaitan,diharapkan dapat lebih selektif terhadap perkembangan lingkungan sosial.

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN

 A.Hasil pengamatan

1.      Data pengemis

Berdasarkan pengamatan yang kami lakukan selama kurang lebih 3 minggu,dengan beberapa responden terdapat hasil sebagai berikut.

 

No
Nama
Umur
Alamat
Penghasilan perhari
1
Sartini
60
-
±105
2
Suparjo
53
-
±85
3
                 Satiem
59
-
±150

 

Tabel 1.1

    Dari responden dengan nama Sartini yang berumur 60 tahun dan berpenghasilan ± Rp 105.000,00.

 



Gambar 1.1

Responden ini mengaku bahwa dirinya bernama Sartini,dan mengatakan bahwa ia sudah mengemis selama ± 15 tahun. Ia mengatakan bahwa ia bekerja sebagai  pengemis untuk memenuhi kebutukan hidupnya dan kedua anaknya. Selain untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, dia juga  dia juga memembutuhkan obat pribadi seperti obat mag, karena dia sudah mengidap sakit mag ketika berusia ± 50 tahun. Dia juga sering muntah darah ketika dirinya merasa kecapaian.

Dia juga sering mengemis di berbagai tempat di Purbalingga misalnya di pasar Bukateja,Masjid Besar Nurul Falah (Bukateja), Masjid Agung Darussalam (Purbalingga), Alun-alun Purbalingga, Pasar Sega Mas (Purbalingga) dan lain-lain.

          Responden dengan nama Suparjo yang berumur 53 tahun mengaku bahwa dirinya sudah mengemis sekitar ± 4 tahun karena kecelakaan sampai kakinya patah. Dia juga merasa tidak dapat mempunyai pekerjaan karena kondisinya yang sekarang ini,selain untuk memenuhi kebutuhan hidupnya ia membutuhkan obat pribadi untuk kakinya yang patah.Ia mengatakan bahwa penghasilanya tidak menentu atau tergantung situasi dan kondisi,misalnya saat bulan suci Ramadhan ia bisa mempuyai uang hingga ± Rp.100.000,00 perhari tetapi saat hari-hari biasa ia mendapatkan uang dari hasil mengemis sampai ± Rp. 85000,00.Dengan kondisi seperti ini dia mengatakan bahwa dirinya mengemis melalui emperan toko,atau masuk ke dalam pasar seperti para pedagang atau pembeli yang ada di pasar.Sebelumnya dia bekerja sebagai buruh tani dan buruh serabutan.

Responden dengan nama Satiem yang berumur 59 tahun dan berpenghasilan ± Rp 150.000,00. Responden ini tidak mau di wawancarai secara lebih lanjut karena dia sedang terburu-buru. Dia hanya menyebutkan nama, penghasilan sehari-hari dan umurnya saja. Alasan dia tidak mau di wawancarai secara lebih lanjut karena dia sedang terburu-buru.

           Dari table 1.1 dapat di simpulkan bahwa banyak orang menjadi pengemis karena faktor ekonomi yang serba kekurangan maupun karena keterbatasan fisik, sempitnya lapangan kerja dan terbatasnya jaminan kesehatan.

 

2.Pendapat Masyarakat Tentang Pengemis

Indah (seorang apoteker) yang beralamat di Jl.Argandaru No.5 Bukateja,berpendapat bahwa pengemis sangat meresahkan dan mengganggu aktivitasnya ketika sedang bekerja. Dia berpendapat

bahwa mengemis di perbolehkan jika memang dia benar-benar tidak mampu bekerja atau benar-benar terdesak,selain itu dia juga mengatakan bahwa pihak pemerintah sendiri belum menindaklanjuti dengan tegas selama dia bekerja sebagai apoteker di Bukateja. Menurut dia sebenarnya pengemis itu bukan orang yang meminta-minta uang saja,baik secara halus maupun secara kasar.Bahkan dia juga pernah di cela dengan kata-kata yang tidak senonoh,karena tidak memberikan uangnya kepada pengemis.

Pak Tohari(penjaga masjid Besar Nurul Falah Bukateja) berpendapat bahwa pengemis itu tidak selamanya kekurangan, banyak pengemis yang sebenarnya mampu secara ekonomi dan fisiknya, tetapi mereka malas untuk mencari pekerjaan yang lebih baik.Dia juga pernah mengusir pengemis yang sedang

mengemis di Masjid samping rumahnya, tetapi pengemis itu tidak pernah mendengarkan perkataanya, untuk tida mengemis.Menurut dia pengemis yang berada di Masjid itu sebenarnya sehat,mampu secara ekonomi,dan fisiknya.

Istri pak Tohari mengatakan bahwa pengemis itu tetap berada di masjid meskipun sudah di peringatkan berulang kali olehnya.Dia juga mengatakan bahwa pengemis yang mengemis di masjid itu tidak mau beribadah di masjid, walaupun sudah di peringatkan berulang-ulang olehnya.

Sopir angkot berpendapat bahwa pengemis yang mengemis di masjid itu sebenarnya adalah orang yang mampu secara ekonomi, buktinya dia memiliki rumah yang layak huni dan fasilitas yang cukup memadai.

Pedagang di pasar juga berpendapat bahwa pengemis itu sering kali membuat kesal, karena biasanya pengemis itu jumlahnya sangat banyak.Pedagang di pasar itu juga mengeluh bahwa dia sudah bosan melihat pengemis-pengemis itu setiap harinya.

 

B. Pembahasan

Kami melakukan pengamatan ditiga tempat yang berbeda.Pertama kami melakukan pengamatan di masjid besar Nurul falah Bukateja.Disana kami mendapati seorang pengemis.Dia mengaku bernama Sartini.Dia berumur 60 tahun.Dari hasil pengamatan kami dapat dijelaskan bahwa pengemis tidak hanya berada di jalanan atau tempat yang ramai, namun pengemis juga berada ditempat peribadahan.Hal ini menunjukan bahwa keberadaan pengemis di Purbalingga sudah dianggap hal yang biasa.Namun dengan adanya pengemis banyak pula masyarakat yang merasa terganggu.

 

 

 

 

 

BAB III

KESIMPULAN DAN SARAN

 

A.    Kesimpulan

Dari  pernyataan di atas, dapat di simpulkan bahwa faktor ekonomi dan keterbatasan fisik menjadi penyebab utama mereka menjadi pengemis.

B.     Saran

Dari hasil pengamatan yang kami lakukan, sebaiknya para penggemis harus dapat mengenali keadaan di sekitarnya dengan cermat.Bagi pemerintah sebaiknya perlu melakukan penanganan terhadap maraknya pengemis sekarang ini.Bagi masyarakat sebaiknya perlu waspada terhadap pengemis-pengemis yang berkeliaran.

 

 

 

 

 

                                                                                 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

                                                                DAFTAR PUSTAKA                   

Https;m.facebook.com/kastrateknishampfara/posts/536319336388173

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


 



 

 


 

 


 

 

Spoof text


SPOOF TEXT

            Di suatu hari,ada seorang anak yang sangat baik dia bernama Novika.Pada saat itu dia berkunjung ke rumah kakek dan neneknya yang berada di desa sebelah.Tempat dimana ia tinggal sehari-hari dengan ayah dan ibunya.Dia memang anak yang baik,tidak sombong,bahkan dia sangat rendah hati.Saat dia pergi ke rumah kakek dan neneknya dia berjalan kaki dengan membawa satu botol minum dan sebuah dompet yang di beri oleh ayahnya ketika berlibur ke Singapura.Dia memang baru berusia 16 tahun,wajar saja jika dia masih seperti kekanak-kanakan.Namun terkadang dia berfikir seperti orang dewasa.Di saat dia berjalan dia melihat seorang nenek yang sangat tua renta sedang menyebrang jalan,diapun prihatin dan membantu menyebrangkan nenek tersebut.Setelah itu dia berjalan lagi menuju rumah kakek dan neneknya, namun setelah 5-7 menit kemudian dia melihat temannya saat dia mengenyam Sekolah Dasar,dia bernama Fifi.Fifi adalah teman sebangkunya dan sangat dekat dengannya.Pada saat itu Novi hanya memberikan ucapan selamat siang dan menanyakan bagaimana kabarnya si Fifi.Dan Fifipun menjawab "ya,siang.Kabarku baik-baik saja.Kamu gimana?".Kemudian Novi menjawab"kabarku juga baik"sambil tersenyum manis dan memasang muka yang menawan.Tak lama setelah mereka berbicara berdua di pinggir jalan,Novipun minta ijin untuk melanjutkan perjalanan.

            Setelah 30 menitan dia sampai di rumah kakek dan neneknya."Asalamualaikum,kek,nek?"ucap salam Novi ketika sampai di rumah kakek dan neneknya."Waalaikum salam," jawab nenek dengan kaget."eh kamu nof?sini masuk"ajak nenek."Iya nek"jawab Novi. Kemudian Novi masuk dan duduk.Ketika Novi di rumah kakek dan neneknya Dia bercanda sampai sore hari.Kemudian Novi pulang dan di beri uang oleh kakeknya sebanyak Rp.100.000,00.Novipun merasa bahagia."Kek,nek,saya pamit pulang dulu ya?"minta izin ke kakek dan neneknya sambil cium tangan."Iya hati-hati di jalan ya?"sahut kakek dengan tersenyum.Setelah beberapa saat Novi merasa bersyukur dan selalu tersenyum karena memikirkan untuk apa uang yang di beri sama kakeknya tadi saat dia akan pulang.

            Ketika Novi melewati kebun yang sepi dia beristirahat di bawah pohon rambutan yang mulai menguning.Sambil minum air yang di bawa dari rumah dia juga melihat buah rambutan yang ada di atasnya.Tapi karena dia sangat kuat imannya dia tak mungkin mengambil buah rambutan yang ada di atasnya.Kemudian Novi melanjutkan perjalanan untuk pulang ke rumah.Tak jauh dari pohon rambutan (tempat untuk istirahat)ada seorang preman yang sangat galak dan tubuhnya penuh dengan tato dan berotot.Tiba-tiba dengan lincah preman itu merebut dompet yang ada di tangan Novi.

Kasih yang tertunda


Kasih Sayang yang Tertunda


          Pagi ini langit terlihat mendung, seperti biasa Adinda atau yang biasa dipanggil Dinda oleh keluarga dan teman-temannya, harus membantu ibunya.Dinda mempunyai adik yang bernama kallin yang duduk dikelas 3 SD, dia juga mempunyai teman yang selalu membantunya yaitu kristy dan elin.Dinda berangkat naik sepeda dan membantu membawa dagangan ibunya.Saat dijalan ban sepedanya bocor dan terpaksa dia harus menuntun sepedanya, tiba-tiba ada seorang anak membawa motor dengan cepat dan air yang ada dijalan mengenai sepeda dan baju Dinda.Setelah anak itu berhenti dan membuka helmnya ternyata dia adalah Adrian teman sekelasnya, dia anak pengusaha yang sukses, tetapi orang tuanya jarang sekali memperhatikannya. Adrian hanya tertawa melihat baju Dinda yang kotor, bahkan dia meneruskan perjalanannya dan tidak mengucapkan maaf pada Dinda karena dia menganggap Dinda teman yang tidak asyik dan terlalu rajin. Akan hal itu Adrian sering kali menjaili Dinda, tapi Dinda hanya menerima dengan lapang dada.Dan Adrian mempunyai penyakit yaitu sering mimisan, bahkan dia sendiri tidak tahu apa penyakit yang dideritanya, karena hal itulah Dinda selalu diam jika Adrian menjaili dirinya.

          Setelah Dinda tiba disekolah ternyata bel berbunyi dua menit yang lalu, dan Dinda masuk ke kelas dengan buru-buru, setelah dia masuk ternyata sedang diadakan ulangan, dan terpaksa dia harus duduk dibelakang disamping Adrian.Karena Dinda anak yang pintar dan baik hati, tidak aneh lagi jika banyak yang minta bantuan termasuk Adrian.Pada saat jam istirahat Adrian sedang duduk dikantin tiba-tiba seperti biasa darah keluar dari hidungnya dan Dinda menyeka darah yang ada dihidung Adrian dan Adrian terdiam saat melihat Dinda menyeka darah yang ada dihidungnya, Adrian berkata dalam hatiny dia seolah tak percaya” kenapa dia masih baik sama aku padahal aku sering menjaili dia, aku juga tidak pernah minta maaf padanya, bahkan saat aku menjaili Dinda, Dinda tidak pernah marah dan membalas perbuatanku”. Sebenarnya Dinda sudah tau kalau sifat Adrian itu keras kepala dan tidak mau mendengarkan masukan dari orang lain, sekalipun itu perkataan dari orang tua Adrian, karena hal itulah Dinda selalu diam jika ada Adrian.Disaat itu Dinda membujuk Adrian agar dia mau periksa ke Rumah sakit, karena Dinda yakin pennyakit Adrian sudah parah.

              Sepuluh menit Dinda menunggu jawaban Adrian, dengan segala rayuan dan perkataan Dinda yang menyentuh hati Adrian, akhirnya Adrian mau periksa ke rumah sakit.Disaat perjalanan,  Dinda dan Adrian bercakap-cakap, Adrian berkata pada Dinda “jika umurku tidak panjang lagi aku minta satu permintaan, tolong katakan pada orang tuaku aku sangat sayang pada mereka, aku menyembunyikan penyakitku ini karena aku tidak mau mereka sedih akan penyakitku ini”.Setelah mereka tiba di rumah sakit dan baru berjalan tiga langkah Adrian terjatuh dan darah keluar dari hidungnya.Setelah lima menit kemudian Adrian sadar dan menggengam tangan Dinda erat-erat dan berkata ‘’untuk yang terakhir kalinya aku hanya ingin melihat video saat aku dan kedua orangtuaku bercanda bersama-sama”.Akhirnya Dinda menyalakan video tersebut dan Dinda terlihat sangat sedih, dia tidak pernah menyangka akan hal sedang terjadi ini.

             Disaat Adrian sedang asyik menonton video itu, Dinda diam-diam menelfon orang tua Adrian.Ketika orang tua Adrian menemui Dinda, Dinda menjelaskan apa yang diderita Adrian dan apa yang Adrian katakan ketika perjalanan ingin ke rumah sakit.Orang tua Adrian seolah tidak percaya apa yang dikatakan Dinda karena mereka mengira Adrian anak yang sehat dan dia juga tidak pernah ada gejala-gejala seperti anak sakit, Dinda mengatakan Adrian tidak mau menunjukan penyakitnya didepan kalian, karena dia tidak  mau Ibu dan Bapak sedih akan penyakit yang dia derita, Adrian juga mengatakan hanya satu kata yang dia ingin katakan pada kedua orang tuanya  yaitu kata “sayang”.Mereka lalu berlari menemui Adrian dan mencium sebagai tanda kasih sayang dan penyesalan mereka, tetapi bagaimmana lagi penyesalan pasti datangnya terakhir.Disaat mereka sedang tertidur Adrian membangunkan mereka dan mengatakan “Ibu, Ayah aku sangat sayang pada kalian, aku juga sengang dan bangga mempunyai orang tua sebaik kalian, dan aku juga ucapkan terima kasih pada Dinda aku banyak salah pada kamu dan kamu juga sudah banyak membantuku disaat terakhirku ini, aku sangat senang mempunyai orang-orang yang sayang padaku dan  selalu ada disaat aku butuh, tapi mungkin takdirlah yang akan mengakhiri kebahagian kita bersama dan disaat itu Adrian meninggal.Dan setelah pemakaman Adrian selesai Dinda menunggu ada sekitar dua jam karena bagi Dinda ini seperti mimpi.

Cinta gorila


Pengumuman UN SMP sudah berlalu, dan liburanpun sudah hampir selesai. Akhirnya, kerja keras gue selama tiga  tahun mengikuti ujian ulang pun membuahkan hasil. Dan guepun dinyatakan LULUS dengan Nilai  Belas Kasihan”.  

Selagi liburan,guepun mencari SMA mana yang cocok buat ngelanjutin studi. Mondar-mandir kesana-kemari tapi kagak ada satu sekolahanpun yang mau menerima gue sebagai kepala sekolah, eh..sorry,, maksud gue siswa.

Guepun terus berusaha mencari sekolah mana yang mau menerima gue. Sempet gue berputus asa dan kagak mau ngelanjutin sekolah. Tetapi,setelah gue bersemedi di  gua KAMPRET selama 7hari 7malam, akhirnya guepun diterima di SMA HARAPAN JAYA. Setelah diterima, guepun diberi informasi oleh panitia PPDB tentang masalah MOS selama 3  hari yang diadain minggu depan.

**

Hari pertama MOS pun datang, Dan disitulah awal dari sebuah cerita cinta gorilla gue pada cewek perfect “no kolestrol dan lemak”(langsing) yang gue liat di depan gerbang sekolah.Waktu gue ngeliat tuh cewek,  tubuh guepun langsung bergetar, keringat dingin bercucuran, bibirpun membuta, matapun menuli dan telingapun membisu. Entah karena gue terpesona akan kecantikannya atau mungkin  karena penyakit Komplikasi Panu Akut  gue lagi kumat.

    “ Tong..,tong..tong..tong..tong..tong ” terdengar bunyi bel sekolah tanda bahwa kegiatan MOS telah dimulai.

Tak berapa lama terdengar pengumuman dari panitia MOS yang menyuruh semua siswa baru untuk berkumpul di aula. Guepun segera pergi kesana. Dan ternyata..., bagaikan sebuah kutipan pepatah “Pucuk dicinta gorillapun tiba” eh sorry,,, maksudnya “Pucuk dicinta ulampun tiba” guepun bertemu lagi dengan sesosok cewek cantik yang gue liat tadi didepan gerbang sekolah sedang berjalan sendirian. Tanpa basa-basi guepun langsung nyamperin dia buat ngajak kenalan.

 “Hay,,..boleh kenalan nggak ? tanya gue.

 “Boleh,,.”  Jawabnya dengan nada alay.

 “Kenalin..,gue Vino Prakasa dari SMP Budi Mulia Jaya,  kalau loeh ?

 “ Oh Vino,,.gue Dinda Herlina dari  SMP Bumi Perbangsa.”

 “ Boleh minta nomer Hp&PIN BB nggak.? Pinta gue.

 “ Boleh,,”. Jawab dia mengiyakan permintaan gue.

Guepun ngobrol sama dia di sepanjang jalan menuju aula dengan nikmatnya. Setelah sampai didepan pintu aula kamipun berpisah. Di dalam aula, gue dan siswa baru lainnya dibagi menjadi beberapa kelompok oleh kakak-kakak OSIS.         Dan yang namanya rejeki emang kagak kemana,  ternyata gue satu kelompok sama si Dinda.

Selain Dinda, di kelompok gue juga ada Paidi, Pursiah,Manto serta Rusmini dan kelompok kamipun diberi nama “Amorphopallus” yang mana adalah nama latin dari bunga bangkai.  Untung aja nama kelompoknya pake nama ilmiah bunga,mungkin kalo pakai nama hewan,pasti kelompok gue udah dikasih nama “LUTUNG”. Selain membagi kami menjadi beberapa kelompok, kakak-kakak OSIS juga menyuruh kami buat membawa sesuatu dihari kedua. Ada Pisang Ambon,Kayu bakar, Merica, Papan nama  dan yang terakhir  1000  butir  beras bolehyang harus dihitung pas nggak boleh kurang dan nggak boleh  lebih. Setelah acara MOS di hari pertama selesai, kamipun pulang ke rumah.

                                          **

 Di rumahpun gue masih saja terbayang-bayang akan pesona Dinda. Setelah gue nyiapin barang-barang yang harus di bawa besok, guepun mencoba untuk menelpon dia, dan ternyata nomer hapenya  aktif.

 “Halo,,.Asalamua’alaikum ?” tanya gue.

 “Wa’alaikumsalam,ini siapa ya ? jawab Dinda

 “Ini gue,.Vino ”.  

 “Vino siapa ya..”

 “Vino Prakasa,.yang  tadi pagi  kenalan sama kamu.” gue menjelaskan.

 “Oh..loe,, ada apa sich Vin ?”

 “Enggak,,. gue cuma iseng-isenga aja” 

 “Oh,,,.. gue boleh minta tolong nggak”

 “Boleh banget,... buat loe apa sih yang nggak gue lakuin.”  Gue Merayu.

 “ Loe  Serius mau ngelakuin apa aja??” 

 “Serius,,..emang loe mau minta tolong  apa ?”

 gue meyakinkan.

 “Simple sich,gue cuma minta loe ngebantuin gue ngebasmi tikus” Jawabnya.

 “ Oh itu,, cuma ngusir tikus mah kecil ?” jawab gue dengan nada sombong.

 “ Bukan itu,..” jawabnya mengelak.

 “ Terus apa?”

 “Gue cuma mau minta tolong  loe buat nyobain racun tikus yang gue pake, apakah masih mempan apa nggak?”

 “Haaah,,!!Loe kira gue monyet percobaan.” jawab gue dengan nada kesel dan shock berat. Setelah itu guepun menyudahi panggilan karena pulsa yang  abis karena dicuri tuyul.

    Terkadang gue selalu bingung, apakah  gue bener-bener cinta sama si Dinda atau tidak.         Dan dari  lubuk hati gue yang terdalam  gue selalu berdoa kepada Tuhan: “Ya Allah., Jika dia memang jodohku maka jadikanlah aku dan dia sebagai pasangan sejati tetapi jika dia bukan jodohku maka jodohkanlah aku dengan dia”. Dan memang  benar kata orang-orang, kalau orang yang lagi jatuh cinta itu  “Taek kucing serasa coklat ” dan guepun merasakan hal yang serupa.   

Dihari kedua MOS

 

“Vino bangun,,,udah siang ...!!!” teriakan nyokap gue yang udah kaya gas LPG 3 kuintal meledak membuat gue terbangun.

“Iya mah...,Vino udah bangun kok” jawab gue sambil nguap.

Tak berapa lama guepun bergegas ke kamar mandi buat ngebersihin badan gue yang baunya  udah kaya keringat kecoa habis push up. Tak lupa guepun menyikat gigi gue yang udah 3 kali puasa dan               4 kali lebaran kagak gue sikat. Setelah mandi guepun segera memakai seragam dan sarapan kemenyan. Habis itu  gue nyiapin barang bawaan dan berangkat.

 “Mah,,.Vino  berangkat dulu ya,,..” teriak gue

 “Iya nak.,,hati-hati di jalan ya..” jawab nyokap gue.

Guepun segera berangkat ke sekolah naik keranda mayat, eh sorry,,...maksud gue motor. Sesampainya di sekolah guepun langsung bergabung dengan kelompok bunga bangkai gue yang ada di kelas.

 “Hai bro,,..gimana kabar loe ?” tanya Paidi pada gue.
 “Aman aman aja bro..,, cuma agak sedikit mual sich” gue menjawab.

“Mual kenapa ?” dia mulai kepo.

“ Liat muka loe yang  kaya ketek beruang” gue mengejek.

“Hahaha....dasar  pantat Anoa” dia membalas.

Di saat gue bercanda sama Paidi di depan kelas tiba-tiba si Dinda dateng memakai pakain SMA  yang sangat sexy. 

“Hai Vin, hai Di...,” dia menyapa.

“Hai juga..,” balas Paidi  sementara gue hanya melongo.

“Gue kedalam kelas dulu ya ” kata Dinda

“Iya....” jawab gue sama Paidi kompak. 

 Setelah itu gue hanya melongo aja dan diam seribu bahasa karena gue masih teringat akan keseksian Paidi eh..sorry maksud gue Dinda.

“Woy....,,!! loe kesambet ya ?” teriak Paidi.

“Nggak kok,,,” jawab gue.

“Apa jangan-jangan loe suka ya sama si Dinda ?” Paidi menggoda.

“Sapa juga yang naksir sama Dinda” gue mengelak.

“Udah ngaku aja,,..gue udah tau kok” balas Paidi.

“Terserah loe aja dah” jawab gue dengan nada pasrah.

“Gitu aja marahh...,, kita ke masuk kelas yuk...” bujuk Paidi.

“Ayo..” gue menurutinya.

 Didalam kelas gue sama Paidi dan anggota kelompok lainnya pun mempersiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan pada saat acara MOS nanti. Setelah itu kamipun segera menuju ke lapangan untuk melaksanakan acara pelatihan PBB(PENDIDIKAN BOKER-BERBOKER) oleh anggota Bantara di lapangan.

 

 

“Woy!!! Bisa cepet nggak sich ?” teriak salah satu kakak Bantara yang mukanya serem kaya Buto ijomenyuruh kami untuk cepat-cepat berkumpul.

“Tu siapa sich ?  galak banget perasaan” tanya gue pada Paidi.

“Oh itu...,, itu Aldo Pimpinan Bantara disini” Paidi menjelaskan.

Setelah itu kamipun diberipelatihan tentang  PBB.

Dasar gue anak Layangan, guepun kagak bisa PBB dan hanya menjadi bahan kemarahan kakak-kakak Bantara.

“He loe,...!!” kak Aldo menunjuk gue.

“Saya..,?” tanya gue.

“Iya loe..,” jawab kak aldo dengan nada tinggi.  

“Ada apa kak ?” gue gemeteran sampai  popok gue bocor ngenahan ompol gue.

“Cepetan,,loe lari sepuluh kali putaran lapangan sambil nyanyi lagu diobok-obok sama Potong bebek angsa”  kak  Aldo menyuruh.

 “Sekarang kak..?”

 “Besok nunggu loe ganteng,,....! ya  Sekarang   !!!!” dia makin kesal.

  Guepun menuruti apa yang diperintahkan  kak Aldo untuk lari keliling lapangan sepuluh kali sambil nyanyi. Dan betapa malunya gue akan perlakuan kak Aldo yang membuat gue ditertawakan oleh temen-temen tanpa terkecuali Dinda.

 “Preeet,,,,Preet,,,,Preet...” bel istirahat berbunyi dan pelatihan PBB pun berakhir. Akhirnya.,.berkat anugrah doa dari ibu guepun sanggup ngejalanin hukuman dari kak Aldo.

 “Heyyy Vin,..kita ke kantin yuk, gue laper nih” Ajak Paidi.

 “Ide bagus tuh,..  udah 4 bulan nih gue kagak makan” jawab gue.

  Gue sama Paidi langsung cabut ke kantin buat belii makanan. Setelah perut gue kenyang dan busung lapar  menghilang,  guepun langsung bersiap mengikuti  acara MOS selanjutnya yakni Sosialisasii Narkoba dan Seks Bebas yang diadain di gedung kesenian.

   Setelah acara presentasi selesai semua siswa barupun diperbolehkan untuk pulang ke habitatnya masing-masing. Guepun langsung              ke parkiran buat ngambil motor  terus pulang ke rumah. Tiba-tiba  gue ngeliat si Dinda di area parkiran lagi jalan sendirian.

“Loe pulang sendirian ya?” tanya gue ke Dinda 

“Iya, emang kenapa?” jawab Dinda.

“Gue anter loe pulang ya?” bujuk gue.

“Nggak usah deh, gue bisa pulang sendiri kok” Dinda menolak.

“Udah ikut aja.” gue meyakinkan.

“Beneran nih ?” tanya Dinda. 

“Beneran, Udah ikut aja”

 “Ya udah deh” Dinda pun naik ke Motor Sport 250cc kredit kebanggaan gue.

 Dalam hati sebenernya gue agak  grogi  dan juga  takut kalau orang-orang yang ngeliat gue ngeboncengin Dinda berteriak: 

“Woyy,,,!! Ada kolor ijo nyulik cewe cantik tuh”

Terus gue di kejar-kejar sama warga dan di sate idup-idup deh.

  Akhirnya guepun nyampe di rumahnya  Dinda yang lumayan mewah dengan cat berwarna biru muda.

 “Maksih ya Vin udah nganterin gue?” kata si Dinda.

 “Sama-sama” jawab gue.

 “Mau mampir ngga?” tanya Dinda.

 “Nggak ah,. Gue mau langsung pulang”

 “Ya udah deh,. hati-hati dijalan ya”.

Setelah berpamitan, guepun langsung pulang kerumah.

**

Dihari Ketiga MOS

 

Dihari ketiga atau hari terakhir MOS semua siswa berangkat di sore hari karena kegiatannya hanya PERSAMI(Perkemahan Sabtu Minggu) yang di adain di hutan belakang sekolah. Gue dan kelompok guepun sibuk membuat tenda dan juga mempersiapkan barang-barang berkemah. Ada kemenyan,minyak wangi, lilin dan juga baskom yang diisi air kembang (kok kaya alat-alat ngepet yah).

  Haripun mulai malam dan acara PERSAMI pun dii buka oleh sambutan dari ketua BANTARA yaitu kak Aldo. Acaranya pun beragam, ada pentas seni,nonton film bareng, dan yang terakhir adalah renungan malam.

 “Vin!!l liat tuh Dinda lagi duduk sendirian.”

Kata Paidi

“Emang kenapa?” jawab gue yang lagi asyik nonton film Habibie dan Ainun yang diputar di acara Nonton film bareng.

“Pas nih,,” Paidi menjawab.

“Pas apanya?” tanya gue.

“Momennya Vin”

“Momen apa?”

“Udah,...cepetan deketin si Dinda terus tembak dia deh” Paidi menyuruh gue.

“Maksud loe?” gue bingung.

“Aaah..,gue udah tau kok kalo loe cinta sama sii Dinda” Paidi mendesak gue.

Guepun berpikir kalo saran paidi bener juga nih, kalo momennya pas buat nembak si Dinda.

“Cepetan Vin keburu Dinda pergi” Paidii mendorong tubuh gue.

“Iya deh,.” Guepun pergi nyamperin si Dinda.

   Dengan perasaan gugup dan deg-degan guepun memberanikan diri untuk nyamperin Dinda buat ngungkapin perasaan gue pada si Dinda.

“Hay Din..,, Kok sendirian?” tanya gue ke Dinda.

“Iya nih,. nggak ada yang nemenin” jawab Dinda.

“Boleh gue temenin nggak?”

“Boleh.”

 Tanpa basa ataupun basi dengan background film indonesia paling romantis yaitu film “G-30S PKI” eh,,,.. maksudnya “HABIBIE&AINUN” guepun langsung to the point untuk menembak si Dinda.

“Din, loe udah punya pacar belum?”

“Belum, emang kenapa?”

“Ooh,,, loe mau ngga jadi pacar gue?

“Maksud loe?”

“Iya,.. loe mau nggak jadi pacar gue?”

“Loe nggak lagi becanda kan Vin?”

“Gue serius Din”

Setelah Dinda mikir sejenak diapun menjawab:

“Sorry yah,.. gue nggak bisa nerima kamu”

“Kenapa?”

“Bukannya gue gak suka sama loe tapi...”

“Tapi kenapa ?”

“Gue lagi nggak mau pacaran, sorry ya..”

“Iya deh,, mungkin lain waktu”

“Loe nggak marah kan?”

“Nggak dong, gue pergi ke tenda dulu yah?”

“Iya.”

  Dengan sedikit kecewa dan agak nelangsa guepun pergi ke tenda untuk menenangkan diri gue yang lagi kacau alias galau.

“Gimana, Loe di terima kan?” tanya Paidi yang ternyata sudah ada di Tenda.

“Di terima pala loe peang”

“Hah,,. Loe nggak di terima ?”

“Kagak Paidiiiii..”

“Kok bisa,,,,??”

“Udah deh,,.. jangan ngebahas itu lagi”

“Ya deh gu ngerti kok”

 

**

 

  Acara PERSAMI pun sudah tujuh hari berlalu dan guepun sudah resmi menjadi siswa di SMA HARAPAN JAYA dan satu kelas dengan Paidi. Tetapi, gue masih saja terbayang-bayang akan pengalaman pahit gue yang di tolak cintanya sama si Dinda. Akibat peristiwa yang menyakitkan itu, badan guepun jadi kurus karena nggak doyan makan, mata jadi merah karena nggak bisa tidur, kosentrasipun menurun karena  belum bisa MOVE ON . Sempet gue berpikiran untuk  bunuh diri dengan cara meminum obat pembasmi nyamuk. Namun, karena obat pembasmi nyamuk itu udah kadaluarsa, guepun mengurungkan niat untuk meminumnya karena takut membuat menyebabkan gue keracunan. Akhirnya guepun mengurungkan niat gue untuk bunuh diri.

  “Kriingggg.....Kringggg....” bunyi HP gue.

  “Halo...” guepun mengangkat panggilan itu yang   ternyata dari Paidi

  “Gawat vin...gawat..” teriak Paidi panik.

  “Gawat kenapa?” gue bingung.

 “Dinda vin,,,dinda !!” Paidi makin panik.

 “Dinda kenapa?”

 “Dinda tadi boncengan sama si Aldo terus mesra-mesraan lagi !!!”

 “Apaah...!!! loe serius?”

 “Serius,, gue ngeliat dengan mata kepala gue sendiri.”

 “Bedebah tuh si Aldo”

 “Betul banget tuh!!”

 “Terus gue harus gimana?”

 “Kita hajar aja tuh si Aldo besok, habis pulang sekolah .”

“Okeh deh”

  Keesokan harinya sepulang sekolah gue sama paidi langsung menghadang si Aldo di parkiran buat ngasih pelajaran kepada si Aldo. Aldo pun terlihat, dan dengan semangat berapi-api gue sama Paidii langsung mengahajar si Aldo dengan membabi buta. Tiba-tiba, Si Dinda datang dan berteriak kalo si Aldo adalah kakak sepupunya si Dinda. Guepun terkejut dan menghentikan serangan membabi buta gue kepada si Aldo yang udah tergeletak.

 “Dasar preman!!” teriak Dinda sambil memarahi gue.

Aldopun tak bergerak sama sekali dan kami  ketakutan. Aldopun di bawa ke Rumah Sakit oleh pihak sekolah sementara gue sama Paidi diamankan oleh satpam sekolah. Setelah mendapat perawatan kurang lebih lima jam akhirnya Aldopun sadar.

  Akibat kejadian gue sama Paidipun di skors 7 harii oleh pihak sekolah dan Dinda pun makin membencii gue sama Paidi. Dan dalam hati gue selalu menyesalkan perbuatan gue yang nekat  menyakiti orang yang tidak bersalah. Dan guepun menamakan pengalaman cinta gue ini dengan nama

“Cinta Gorilla”