Senin, 26 Mei 2014

Karya Ilmiah Remaja-Fenomena Pengemis Di Purbalingga


BAB I

PENDAHULUAN

 

A.LATAR BELAKANG

Mengemis  suatu pekerjaan yang sangat memprihatinkan.Karena mengemis adalah pekerjaan yang di lalukan di sekitar jalan-jalan besar,masjid,alun-alun,pasar,dan sebagainya. Seseorang yang mengemis biasanya memakai pakaian yang kusut,kotor,dan kucel. Pada umumnya seseorang yang mengemis adalah orang-orang yang sudah lansia yang tidak memiliki pekerjaan. Tapi, pada zaman sekarang ini mengemis tidak hanya di lakukan oleh lansia atau orang yang sudah tua saja,mengemis juga di lakukan oleh orang-orang yang masih muda bahkan anak-anak.

          Mengemis banyak  dilakukan oleh sebagian orang  untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.Selain itu mengemis adalah suatu cara paling akhir untuk mendapatkan penghasilan sehari-hari. Namun,akhir-akhir ini pertumbuhan pengemis diIndonesia mengalami kenaikan yang sangat drastis,salah satunya di purbalingga (Jawa Tengah). Pemeritah kabupaten purbalingga perlu memperhatikan secara khusus tentang pertumbuhan pengemis di Purbalingga.

Di kota-kota besar seperi Purbalingga sangat mudah kita jumpai deretan-deretan pengemis yang berkeliaran.Karena banyaknya pengemis tidak sedikit orang yang merasa resah terhadap keberadaan mereka.Keresahan itu terjadi karena pengemis-pengemis yang meminta-minta itu biasanya mengganggu kegiatan atau aktifitas orang-orang yang mereka mintai.

Islam memandang pengemis sebagai pekerjaan yang haram.Alasannya karena mereka menipu dan merampas hak orang miskin yang benar-benar membutuhkan bantuan. Baik caranya dengan pengemis secara konvensional,ataupun mengemis menggunakan lembaga fiktif.

Dalilnya ialah :

Diriwayatkan dari Hubsyi bin Junaadah Radihyalahu’anhu, ia berkata: Rasulullah saw bersabda yang artinya “ Barang siapa meminta-minta kepada orang lain tanpa adanya kebutuhan, maka  seolah-olah ia memakan bara api “. HR.Ahmad.

          Untuk mengatasi permasalahan pengemis di Purbalingga,kami tertarik untuk melakukan pengamatan tentang apa yang melatar belakangi seseorang menjadi  pengemis.

 

 

 

 

B.RUMUSAN MASALAH

           Tujuan di adakanya pengamatan tetang ‘’Fenomena Pengemis di Purbalingga’’ adalah untuk mengatasi hal –hal berikut:

1.      Apa penyebab mereka menjadi pengemis?

 

2.      Mengapa mereka memilih berprofesi menjadi seorang pengemis?

3.      Apa alasan mereka mengemis di Purbalingga?

4.      Bagaimana cara mengatasi perluasan pengemis di Purbalingga?

C.TUJUAN

          Tujuan di adakan kegiatan pengamatan ini adalah sebagai berikut:

1.      Untuk mengetahui alasan mereka menjadi pengemis.

2.      Untuk mengetahui alasan mereka berprofesi menjadi seorang pengemis.

3.      Untuk mengetahui alasan mereka mengemis di Purbalingga.

4.      Untuk mengetahui bagaimana cara mengatasi perluasan pengemis di Purbalingga.

 

D.MANFAAT PENELITIAN

1.      Bagi pengemis diharapkan untuk berhenti dari mengemis.

2.      Bagi pemerintah diharapkan untuk menentukan langkah yang bijak dalam mengatasi pertumbuhan pengemis di Purbalingga.

3.      Bagi masyarakat diharapkan dapat memberikan sumbangsih bagi pemerintah maupun pengemis.

4.      Bagi semua instansi yang berkaitan,diharapkan dapat lebih selektif terhadap perkembangan lingkungan sosial.

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN

 A.Hasil pengamatan

1.      Data pengemis

Berdasarkan pengamatan yang kami lakukan selama kurang lebih 3 minggu,dengan beberapa responden terdapat hasil sebagai berikut.

 

No
Nama
Umur
Alamat
Penghasilan perhari
1
Sartini
60
-
±105
2
Suparjo
53
-
±85
3
                 Satiem
59
-
±150

 

Tabel 1.1

    Dari responden dengan nama Sartini yang berumur 60 tahun dan berpenghasilan ± Rp 105.000,00.

 



Gambar 1.1

Responden ini mengaku bahwa dirinya bernama Sartini,dan mengatakan bahwa ia sudah mengemis selama ± 15 tahun. Ia mengatakan bahwa ia bekerja sebagai  pengemis untuk memenuhi kebutukan hidupnya dan kedua anaknya. Selain untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, dia juga  dia juga memembutuhkan obat pribadi seperti obat mag, karena dia sudah mengidap sakit mag ketika berusia ± 50 tahun. Dia juga sering muntah darah ketika dirinya merasa kecapaian.

Dia juga sering mengemis di berbagai tempat di Purbalingga misalnya di pasar Bukateja,Masjid Besar Nurul Falah (Bukateja), Masjid Agung Darussalam (Purbalingga), Alun-alun Purbalingga, Pasar Sega Mas (Purbalingga) dan lain-lain.

          Responden dengan nama Suparjo yang berumur 53 tahun mengaku bahwa dirinya sudah mengemis sekitar ± 4 tahun karena kecelakaan sampai kakinya patah. Dia juga merasa tidak dapat mempunyai pekerjaan karena kondisinya yang sekarang ini,selain untuk memenuhi kebutuhan hidupnya ia membutuhkan obat pribadi untuk kakinya yang patah.Ia mengatakan bahwa penghasilanya tidak menentu atau tergantung situasi dan kondisi,misalnya saat bulan suci Ramadhan ia bisa mempuyai uang hingga ± Rp.100.000,00 perhari tetapi saat hari-hari biasa ia mendapatkan uang dari hasil mengemis sampai ± Rp. 85000,00.Dengan kondisi seperti ini dia mengatakan bahwa dirinya mengemis melalui emperan toko,atau masuk ke dalam pasar seperti para pedagang atau pembeli yang ada di pasar.Sebelumnya dia bekerja sebagai buruh tani dan buruh serabutan.

Responden dengan nama Satiem yang berumur 59 tahun dan berpenghasilan ± Rp 150.000,00. Responden ini tidak mau di wawancarai secara lebih lanjut karena dia sedang terburu-buru. Dia hanya menyebutkan nama, penghasilan sehari-hari dan umurnya saja. Alasan dia tidak mau di wawancarai secara lebih lanjut karena dia sedang terburu-buru.

           Dari table 1.1 dapat di simpulkan bahwa banyak orang menjadi pengemis karena faktor ekonomi yang serba kekurangan maupun karena keterbatasan fisik, sempitnya lapangan kerja dan terbatasnya jaminan kesehatan.

 

2.Pendapat Masyarakat Tentang Pengemis

Indah (seorang apoteker) yang beralamat di Jl.Argandaru No.5 Bukateja,berpendapat bahwa pengemis sangat meresahkan dan mengganggu aktivitasnya ketika sedang bekerja. Dia berpendapat

bahwa mengemis di perbolehkan jika memang dia benar-benar tidak mampu bekerja atau benar-benar terdesak,selain itu dia juga mengatakan bahwa pihak pemerintah sendiri belum menindaklanjuti dengan tegas selama dia bekerja sebagai apoteker di Bukateja. Menurut dia sebenarnya pengemis itu bukan orang yang meminta-minta uang saja,baik secara halus maupun secara kasar.Bahkan dia juga pernah di cela dengan kata-kata yang tidak senonoh,karena tidak memberikan uangnya kepada pengemis.

Pak Tohari(penjaga masjid Besar Nurul Falah Bukateja) berpendapat bahwa pengemis itu tidak selamanya kekurangan, banyak pengemis yang sebenarnya mampu secara ekonomi dan fisiknya, tetapi mereka malas untuk mencari pekerjaan yang lebih baik.Dia juga pernah mengusir pengemis yang sedang

mengemis di Masjid samping rumahnya, tetapi pengemis itu tidak pernah mendengarkan perkataanya, untuk tida mengemis.Menurut dia pengemis yang berada di Masjid itu sebenarnya sehat,mampu secara ekonomi,dan fisiknya.

Istri pak Tohari mengatakan bahwa pengemis itu tetap berada di masjid meskipun sudah di peringatkan berulang kali olehnya.Dia juga mengatakan bahwa pengemis yang mengemis di masjid itu tidak mau beribadah di masjid, walaupun sudah di peringatkan berulang-ulang olehnya.

Sopir angkot berpendapat bahwa pengemis yang mengemis di masjid itu sebenarnya adalah orang yang mampu secara ekonomi, buktinya dia memiliki rumah yang layak huni dan fasilitas yang cukup memadai.

Pedagang di pasar juga berpendapat bahwa pengemis itu sering kali membuat kesal, karena biasanya pengemis itu jumlahnya sangat banyak.Pedagang di pasar itu juga mengeluh bahwa dia sudah bosan melihat pengemis-pengemis itu setiap harinya.

 

B. Pembahasan

Kami melakukan pengamatan ditiga tempat yang berbeda.Pertama kami melakukan pengamatan di masjid besar Nurul falah Bukateja.Disana kami mendapati seorang pengemis.Dia mengaku bernama Sartini.Dia berumur 60 tahun.Dari hasil pengamatan kami dapat dijelaskan bahwa pengemis tidak hanya berada di jalanan atau tempat yang ramai, namun pengemis juga berada ditempat peribadahan.Hal ini menunjukan bahwa keberadaan pengemis di Purbalingga sudah dianggap hal yang biasa.Namun dengan adanya pengemis banyak pula masyarakat yang merasa terganggu.

 

 

 

 

 

BAB III

KESIMPULAN DAN SARAN

 

A.    Kesimpulan

Dari  pernyataan di atas, dapat di simpulkan bahwa faktor ekonomi dan keterbatasan fisik menjadi penyebab utama mereka menjadi pengemis.

B.     Saran

Dari hasil pengamatan yang kami lakukan, sebaiknya para penggemis harus dapat mengenali keadaan di sekitarnya dengan cermat.Bagi pemerintah sebaiknya perlu melakukan penanganan terhadap maraknya pengemis sekarang ini.Bagi masyarakat sebaiknya perlu waspada terhadap pengemis-pengemis yang berkeliaran.

 

 

 

 

 

                                                                                 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

                                                                DAFTAR PUSTAKA                   

Https;m.facebook.com/kastrateknishampfara/posts/536319336388173

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


 



 

 


 

 


 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar