“Pembantu”
Drama
ini menceritakan tentang kehidupan seorang pembantu dengan seorang majikan yang
sadis dan sangat kikir.Setiap hari si pembantu di siksa sampai luka ,selain itu
si pembantu terkadang hanya di jatah makan satu kali dalam sehari.Pada suatu
hari si majikan akan berbelanja dan mengajak 2 0rang pembantunya.Ketika di
tengah perjalanan ada seorang pengemis yang meminta uang,namun si majikan tidak
memberi uang kepada pengemis tetapi si
anak pembantu memberinya uang hasil dia menabung ketika berangkat sekolah.Pada
saat anak pembantu memberi uang si majikan melihatnya dan memarahinya.
Nyonya Gautama :
Situm,Situm,Situuuuuum.
(Sambil teriak)
Situm :
Iya nya,nyonya memanggil saya?
(menundukan kepala dan membawa serbet dengan terburu-buru)
Nyonya Gautama :
Bukan saya manggil orang gila di depan,ya manggil kamulah!Besok bawa anak
kamu untuk ikut belanja ngerti!
(Agak marah)
Situm :
Baik nya.Boleh nggak nya,kalo saya minta kas bon dulu buat bayar anak saya sekolah?
(Sedikit takut)
Nyonya Gautama :
Nggak.
(Tanpa melihat Situm )
Hari mulai siang,Situm segera menyiapkan makan
siang untuk Nyonya Gautama dan anaknya Friska Anggraina.Saat Situm menyiapkan
makan siang di dapur Friska pulang dari sekolah.
Friska :
Mamiiii aku pulang.
(Sambil mencium nyonya Gautama)
Nyonya Gautama :
O.k babyyyy.Makan dulu sana.
(Membalas senyuman Friska)
Friska :
O.k.
(Langsung pergi)
Sampailah Friska di ruang makan dan langsung
duduk di samping Situm saat Situm menata makanan.Dan saat itu juga Dewi (anak
Situm) pulang dari sekolah memakai seragam sekolah yang amat kotor.Karena
terkena air kecomberan di pinggir jalan.
Friska :
Kok cuman kaya gini doang mbok! Mamiiiiiiiiiiii masakanya cuman sayur kangkung dan tempeeeeee.
(Sambil duduk dan muram)
Situm :
Iya non karena semua bahan masakan sudah habis,dan Nyonya Gautama belum
memberi uang belanja.
(Menunduk dan membawa serbed)
Nyonya Gautama :
Ada apa sayang?
(Memanjakan Friska sambil mengelus rambut
Friska)
Friska :
Ni masakanya cuman kaya ginii,lebih baik aku nggak makan.
(Ngambek)
Nyonya Gautama :
Ya udah kita makan di restoran aja yah?
(Dengan nada lembut)
Dewi :
Asalamualaikum?
(Memakai baju kotor dengan mencium tangan
Situm dan takut pada Nyonya Gautama
dan Friska)
Situm :
Eeeeh baru pulang Wi?
(Bersalaman dengan Dewi)
Friska :
Dewi kamu itu nggak pantes di ruangan ini!Sekarang kamu pergi dari sini bau tau!
(Marah)
Nyonya Gautama :
Hey kamu nggak denger anak saya ngomong apa hah!
(menjambak Dewi sambil melotot)
Dewi :
Iya maaf nya,tadi saya kecipratan air ketika pulang dari sekolah.
(Bicara
sambil merasa kesakitan)
Situm :
Iya nya,maafkan anak saya,anak saya nggak salah.
(Mata berkaca-kaca)
Nyonya Gautama :
Sekarang kamu pergi dari sini gembel!
(Mendorong sampai Dewi jatuh)
Situm :
Yang sabar ya nak?
(Menolong Dewi sambil menangis)
Nyonya Gautama :
Sekarang kalian pergi dari sini!
(Mata melotot)
Setelah kejadian itu Dewi hanya bisa menangis
dan meratapi nasibnya sampai malam hari.Tepat pukul 19.00 Dewi mulai
mengerjakan PR.Dan pada saat itu Irfan datang lewat jendela dan membawakan 2
bungkus roti untuk Dewi karena Irfan tahu kalau Dewi pasti belum makan dari
siang.
Irfan :
Wi,Wi,Wi sini.....
(Di jendela dengan suara kecil)
Dewi :
Ngapain kamu kesini,kalau kamu ketahuan sama Nyonya dan Friska mereka pasti akan marah padaku
sampai-sampai mereka bakal menghukumku lagi.
(Suara pelan)
Irfan :
Udah tenang saja.Nih aku bawain roti buat kamu,kamu pasti belum makan dari siangkan?
(Suara pelan dengan memberikan dua bungkus
roti)
Dewi : Kamu tahu dari mana?
(suara pelan dan menengok ke pintu)
Irfan :
Dari hatimuuuuu.
(Sedikit tersenyum dan menghibur Dewi)
Dewi :
Aku nggak bakal tersenyum.
(Sedikit
tersenyum)
Irfan :
Laaaa itu tersenyum.
(Sedikit tersenym)
Dewi :
Eh trimakasih yah rotinya,sekarang kamu pergi sana.
(Menengok pintu kamar)
Irfan :
O.k tapi aku masih kangeeeen.
(Sedikit manja)
Dewi :
Udah cepet sana pergi.
(Sambil mendorong Irfan)
Irfan :
O.k da sayaaaaang.I LOVE YOU. SO MUCH.
(Melambaikan tangan)
Saat Dewi memakan roti pemberian dari
Irfan,tiba-tiba Irfan telfon ke Dewi dan Dewipun menerima telfon dari
Irfan.Pada saat itu tiba-tiba Friska datang.
Dewi :
Halo?
(Mengankat telfon)
Irfan :
Halo juga,gimana rotinya sayang?
(Memegang telfon)
Dewi :
Nggak usah sayang-sayang.
(Sambil menerima telfon dan memakan roti)
Friska :
Oooooooo malem-malem telfonan sama pacarnya,trus makan roti lagi enak tuuh?Siapa suruh
kamu pacaran!sekarang kamu ngepel lantai depan!
(Marah)
Dewi :
Tapi non,saya belum belajar terus saya juga belum makan.
(Menundukan kepala)
Friska :
Berani nglawan kamu yah?
(Menjambak rambut Dewi)
Dewi :
Iya non saya akan ngepel lantai depan.
(Agak takut)
Friska :
Ya udah cepet!
(Mendorong Dewi)
Dewi :
Iya non
(Berdiri dan keluar)
Kemudian Dewi mengepel sampai malam hari
sekitar pukul 23.00.Setelah itu Dewi tidur dan bangun pukul 05.30 untuk kepasar
bersama ibunya dan Nyonya Gautama.
Nyonya Gautama :
Situuuum,Dewiii,cepat kemari
(Teriak di depan rumah)
Situm :
Iya nya?
(Sambil membawa tas)
Nyonya Gautama :
Lelet banget jadi orang.
(Sambil membawa dompet)
Tak lama kemudian mereka sampai di
pasar.Tiba-tiba ada seorang pencopet yang ternyata dia Frendi yang menyamar menjadi pengemis,sehingga Nyonya Gautama di copet.
Frendi : Mas,Mbaaaa sedekaaaaah.
(Menyodorkan tangan dan memakai baju compamg-camping)
Dewi : Nih pak sedikit rezeki buat bapak.
(Memberi uang RP.20.000,00 hasil dari tabugan selama ia sekolah)
Nyonya Gautama : Bodoh kamu itu uang buat belanja tau!Di kira cari uang itu gampang apa!Awas kalau kamu
hambur-hamburkan uang lagi.
(Melotot)
Dewi :
Ma'af nya,tapi itu hasil tabungan saya.
(Menunduk)
Tiba-tiba pencopet itu mengambil dompet milik
Nyonya Gautama,dan kabur,ketika Dewi dan Situm sedang ke WC.
Nyonya
Gautama : Copeeeeeeeeet.Tolong dompet
saya di copet sama dia tolonggggg?
(Teriak histeris)
Situm : Bodoh kamu dia itu
pencopet bukan pengemis!
(Melotot dan mendorong Dewi sampai jatuh)
Dewi : Maaf nya saya tidak
tahu.
(Muka
berkaca-kaca)
Nyonya
Gautama : Pokoknya saya tidak mau
tahu,kamu harus ganti uang saya.
(Melotot dan pergi)
Tak lama
kemudian Frendi datang ke rumah Friska dan memberikan kado berupa dompet hasil
copetanya.
Frendi :
Asalamualaikum?
(Mengetok pintu dan membawakan sebuah kado)
Friska : Waalaikumsalam.Eh
kamu ndi?sini masuk anggap aja ini rumah mu.
(Menarik Frendi dan menyuruh duduk)
Frendi : Ya makasih
Fris,ni aku punya kado untukmu.
(Memberikan kado)
Friska : Eh ada apa nih,bawain
kado aja,makasih ya?
(Menerima kado dan tersenyum)
Ketika
mereka sedang asik berbicara tiba-tiba Nyonya Gautama pulang ,kemudian di susul
oleh Dewi dan Situm
Friska : Mamiiii koh cemberut?
(Memeluk Nyonya Gautama)
Nyonya Gautama : Iya sayang.Ini dompet mami yang tadi di bawa mami ke pasar
terus kecopetan,kamu dapet dari
mana?
(Bingung)
Friska :
Aku di kasih sama pacar aku.
(Cemberut)
Nyonya Gautama : Mana temen kamu!mana!
(Marah)
Friska :
Itu lagi duduk.Tapi nggak mungkin mih dia itu baik.
(Mengarahkan
ke arah Frendi)
Nyonya Gautama : Oooooh jadi kamu yang nyopet dompet saya!
(Mendekat
Frendi dan marah)
Frendi :
Enggak tante,ini saya beli pake uang saya.
(Cemas)
Situm :
Iya nya dia yang jadi pengemis tadi waktu di pasar,yang di beri uang sama Dewi.
(Datang
dan menunjuk keada Frendi)
Dewi :
Oooh ini Frendi nya,yang katanya pacarnya non Friska di sekolah.
(Di
samping Frendi)
Irfan :
Oooh dasar biang masalah Di sekolah buat masalah di rumah buat masalah,nyadar
dong lo pacaran sama Friska.Tau diri dong, lo itu siapa?
(Mendekat)
Nyonya
Gautama : Sekarang kamu berikan semua
isi dompet saya dan kamu pergi!
(Mengusir dan membentak)
Frendi : Maaf
tante.
(Mengeluarkan semua isi dompet dan pergi)
Nyonya Gautama : Friska kenapa kamu pacaran sama pencopet!dia itu pencopet,pengemis,pembohong.Mami heran sama
kamu ternyata anak mami itu seorang yang kotor.Ternyata kamu pacaran sama dia!
(Marah)
Dewi : Sabar nya,semua ini
pasti ada hikmahnya.
(Memberi suport dan mengelus pundak Nyonya
Gautama)
Nyonya Gautama : Iya wi,saya minta maaf ya wi,saya sudah menyiksa kamu,saya sudah
jahat sama kamu saya sudah buruk sangk
sama kamu.
(Memeluk
Dewi dan menangis)
Dewi : Iya nya,semuanya
baik-baik saja ko,kasian non Friska di marahi sama Nyonya.
(Menangis)
Friska :
Mi aku minta maaf,aku nggak tahu kalau Frendi itu bajingan,dan aku minta maaf
buat Dewi dan bi Situm.
(Cemberut)
Situm :
Iya non semua ini memang sudah di atur,bibi sama Dewi sudah memaafkan non dan
nyonya,jadi sekarang sudah tidak perlu di maafkan lagi,dan semua ini lupakan
saja.
(Memeluk
Friska)
Nyonya Gautama : O.k kali ini kita buka lembaran baru dan untuk menanggung rasa
bersalah saya,maka bi situm gajinya saya naikan kemudian Dewi saya biayai
sekolahnya sampai kuliah.
(Tersenyum)
Irfan :
Saya enggak tante?
(Senyum)
Nyonya Gautama : Boleh-boleh.Sekarang saatnya makan-makan,
(Bahagia)
Irfan,Dewi,Friska :
Horeeeeeeee.
S E K I A N
Tidak ada komentar:
Posting Komentar